Home > Society > Emas rebound, diburu sebagai aset safe haven.

Emas rebound, diburu sebagai aset safe haven.

Added: (Sat Feb 03 2018)

Pressbox (Press Release) - Memang, hingga hari ini pukul 14: 51, indeks dollar tengah merosot 0, 18% di level US$ 90, 814. Serta mengutip informasi Reuters (11/1), data Departmen Perekonomian AS menunjukkan China merupakan negara pemegang obligasi AMERIKA SERIKAT terbesar dengan nilai mencapai US$ 1, 19 triliun per Oktober 2017. Dengan demikian, isu berkaitan agenda belanja obligasi China bakal mempengaruhi posisi greenback.
Tambah lagi, terdapat sentimen daripada Eropa yang berpotensi memicu ketegangan politik. Mengutip Bloomberg (15/1), partai populis Five Star Movement di Italia telah menyuarakan ide keluar dari zona UE. Hal ini menjadi perhatian rekan lantaran Italia adalah negara penggerak ekonomi ketiga terbesar di zona tersebut dan negara itu akan mengadakan pemilihan umum pada 4 Maret nanti.
"Ini baru rumor tapi ini bisa menyebabkan gejolak terutama di pasar Eropa, " jelas Deddy. Atas pertimbangan tersebut, Deddy melihat harga emas pada akhir kuartal I dapat terapresiasi hingga level resisten US$ 1. 360, apalagi mengingat agenda tahun baru China yang kerap sebabkan pasar memburu emas.
Sedangkan untuk perdagangan besok, Deddy melihat harga emas memiliki, potensi koreksi karena sudah menguat terlalu tajam. Ia beri perkiraan harga Selasa (16/1) akan berada dalam rentang US$ 1. 336, 70 - US$ 1. 345 per ons troi. Sedangkan dalam sepekan bisa melebar ke US$ 1. 322 - US$ 1. 357, 30 per ons troi.
´╗┐PT RIFANFINANCINDO
Harga emas rebound terpicu isu belanja obligasi China
Penguatannya ditopang rumor pemerintah China akan mengurangi belanja surat utang milik Amerika Serikat (AS).
Muncul juga surat dari partai populis di Italia yang menyuarakan keluar dari Uni Eropa.
Mengutip Bloomberg Senin (15/1) pukul 14: 31 WIB, harga emas kontrak pengiriman Februari 2018 di Commodity Exchange tercatat naik 0, 55% ke level US$ 1. 342 masing-masing ons troi. Dalam seminggu, harganya sudah naik 1, 66%.
Deddy Yusuf Siregar, Analis PT Asia Tradepoint Futures menyatakan hari Kamis (11/1) lalu, pasar digoncang rumor bahwa pemerintah China akan mengurangi belanja surat utang milik AS.
"Pernyataan tersebut sudah dibantah oleh pemerintah China sebagai sekadar isu, tapi pasar melihat kalau tidak ada gas tidak ada api dan langsung memburu aset lindung nilai, " jelas Deddy saat dihubungi Kontan. co. id, Senin (15/1).

Submitted by:
Disclaimer: Pressbox disclaims any inaccuracies in the content contained in these releases. If you would like a release removed please send an email to remove@pressbox.co.uk together with the url of the release.