Home > Science > Belajar dari Anak Kuli Bangunan yang Kini Punya 5 Maskapai

Belajar dari Anak Kuli Bangunan yang Kini Punya 5 Maskapai

Added: (Sun Dec 31 2017)

Pressbox (Press Release) - Jakarta - Bahlil Lahadalia, mengawali bagai pengusaha dari titik zero. Bahlil terlahir dari keluarga miskin, tapi kini menjadi pengusaha membuahkanhasil dengan 5 perusahaan.

Putra asal Fakfak Papua ini? sempat menjadi seseorang kondektur dan sopir angkot, dan pengasong kue semasa bersimpuh di bangku sekolah.

Pria kelahiran 1976 ini berhasil menjadi ?Bos Umum Kelompok Pengusaha Kecil Indonesia (HIPMI) 2015-2018, yang selama ini diduga jadi 'perkumpulan' anak-anak juragan dan atasan.



Berikut konsultasi detikFinance, saat ditemui di area Kuningan, Jakarta, Rabu (4/3/2015).

Katanya Kalian hidup susah di era kecil, dapat ceritakan?
Saya sejak kecil sudah mulai jualan kue, itu terjadi lantaran keterpaksaan, kondisi keluarga. Telah di terminal, jadi kondektur, sopir angkot. Sampai bersama mahasiswa pun kuliah, anggaran sendiri. Per SD kelas 4 dana sendiri. Emak saya itu kan juru cuci pakaian di rumah orang, Bapak saya pekerja bangunan

Ana 8 bersaudara bersama penghasilan yang terdapat dari orangtua, makan saja susah. Aku punya satu kemujuran, dilahirkan dari orangtua yang punya impuls dan jiwa pantang menyerah yang kuat.

Mereka tetap fight bakal membesarkan menyekolahkan, meski begitu, segala anaknya cendekiawan semua. Jadi tampak yang sudah S-2, S-3 gak ada yang gak sarjana. Mereka rata-rata karyawan negeri, yang jadi pengusaha saya saja. Adik saya semua jadi pegawai negeri, satu dokter, dua lagi kuliah di UGM, selebihnya pegawai negeri, Saya anak kedua.

Bagaimana ceritanya Kalian bisa jualan kue?
Saya itu pagi hari, setelah shalat pagibuta saya buat kue, harganya Rp 50 hingga Rp 100, saya jualan ke teman-teman, kue kacang ijo direbus baru, digoreng kayak pia.

Itu masih Rp 25, pisang menumis macam-macam kue. Kelapa dengan gula merah yapong itu saya lakukan, dijual ke teman-teman sekolah saya. Di saat teman-teman aku sarapan dengan orangtua, aku jualan kue, kelas 4 beserta kelas 5 pernah jualan.

Jiwa bisnis Kalian sudah berpengalaman sejak sempit?
Sudah terlatih sejak minim. Kalau tumbuh kan timbul karena badaniah, ini jadi dilatih. Mentalitas untuk jadi entrepreneur itu sudah kapabel sejak sedang SD, terjadi lantaran keterpaksaan. Uangnya waktu SD kasih ke Emak, untuk maktab, bantu, karna kalau kamu nggak seperti itu, kita gak bisa madrasah.

Saat SMP, aku sudah lego sayur. Di SMP itu di pekarangan rumah saya bikin tanam kangkung, saya jual seraya jadi kondektur angkot. Sudah ingat nakal kamu, sejak umur 12-13 tahun sudah hidup di stasiunhalte, masa beluwek sudah mengerti alkohol. Begitu kerasnya semacamitu hidup di terminal, orangtua ingat. Fakfak itu kecil, hasilnya pula kasih ke orangtua, untuk kudapan sendiri tampak.

SMEA sudah jadi pengemudi angkot, waktu kelas 2 SMEA saya suah bisa punya SIM. Jadi kalau sekolah pagi, pulang jam 1 langsung betot angkot. Sekolah sore-pagi naik angkot. Biasa kalau malam sampai jam 9 sampai jam 10. Mikrolet lah di situ, L 200. http://kontraktorbaja.net/id/jasa-konstruksi-bangunan/ , masa itu pikiran saya adalah happy-happy saja, nggak ada pikiran menabung.

Ketika kuliah apakah Anda juga sambil berbisnis alias bekerja?
Orang berumur saya tidak tahu saya daftar kuliah?. Jadi di saat semua orang sudah tamat dan segenap berangkat, aku di pelabuhan. Kapal Rinjani masuk, lirik teman-teman pada berangkat, air mata aku keluar sorangan.

Semua berangkat ada yang naik pesawat. Saya pikir-pikir mau apa saya di sini. Akhirnya aku pulang ke rumah, saya ambil kantong plastik, aku bawa brevet saya, bawa baju tiga biji.

Saya bilang sepadan orang tua saya saya kepingin ke Jayapura, nggak ingat saya mau berangkat ke kuliah. Fakfak ke Jayapura itu perjalanan 5 hari. Pakai Kapal Rinjani. ?Era itu saya belum daftar kuliah dan tidak terdapat keluarga. Tahun 1995 itu modalnya Rp 400 ribu saya lagi ingat itu. Sampai di Jayapura, saya gabung serupa anak-anak Fakfak di situ.

Tujuannya bukan kuliah, ingin tinggalkan Fakfak saja. Saya bermukim di situ. Aku di situ berasumsi, UN sudah kelar tes segala. Akhirnya saya sekolah STIE Port Numbay, saya bilang itu cabangnya Harvard di Jayapura.

Saya kampus di situ beserta tinggal di wisma. Semester 4 saya sudah jadi sekretaris dewanperwakilan, baru orang berumur tahu saya kuliah D3, perbankan dulu, ahli pertengahan dulu.

Betul-betul hidup bertahap. Kalau S-1 langsung cemas gagal, karna nggak tampak biaya. Sesudah D-3, saya luang kerja di Bank Papua. Semasa 6 bulan saya operasi sebagai Amir Senat, saya di bagian dokumentasi. Saya 4 bulan. Saya lempar. Aku bilang tidak terlihat teori ini. Berhenti itu saya beristirahat jadi pegawai bank, setelahitu saya lanjut maktab lagi ambil S-1.

Apakah Anda kuliah memakai biaya individual?
Selama kuliah sorong gerobak di pasar durasi itu. Di pasar tradisional buat menuju ke jalan awam, belanjaannya banyak. Pedati dorong itu barang mereka. Sekali dorong Rp 200, saya masih ingat. Itu buat biaya makan anggaran angkot kuliah, sambil memang di kampus saya bikin tugas. Untuk makalah, saya jual Rp 10.000.

Pernah berprestasi di sekolah?
Di SMEA jagoan 1, dari kelas 2 beserta kelas 3, beserta lulus. Ranking satu. Aku juga sudah aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sebelum masuk kuliah, tampak basic training, masih calon mahasiswa pernah demo.

Di SMP-SMEA OSIS. Organisasi sudah menjadi bagian dari hidup saya. Kumpul-kumpul silaturahmi, tukar pikiran. Anda kalau kemusnahan duit itu tiada terlalu berpendar. Kalau kemusnahan kawan terlihat yang terganggu dalam hidup.

Apa sesudah itu langsung bekerja?
Saya melanjutkan kampus S-1 manajemen keuangan,? aku pada saat pernah mau kelar. Saya sudah memutuskan untuk menjadi juragan. Sebelum saya wisuda, saya mengakhirkan untuk jadi saudagar, tidak terlihat modal sepadan sekali. Orang sempat aib saya, karena dalam pemahaman mereka, jadi pengusaha itu yang pertama perlu punya uang, orangtua kaya, segala bentuk. Waktu itu aku mengatakan, jika saya patut mulai dengan satu keyakinan yakin keaktifan sampai.

Bergerak di mana setelah jadi sarjana?
Pertama saya membuat gagasan rancangan bisnis. Aku uraikan di pokok pikiran, saya mencari partner dengan teman-teman di Jakarta. Saya meyakinkan mereka dan rancangan itu jalan.

Kesimpulannya perusahaan itu, aku pakai kepunyaan teman beserta saya jadi pemimpin wilayahnya. Dan seluruh konsep bisnisnya, gimana menkreasikan. Menjalankannya semua dari aku. Saya hanya minta tenaga ahli, IT, moneter, sama programnya. Tahun 2003. Konsultan finansial saya ketua wilayah durasi itu. Di usia aku 26 tahun. Karyawan saya sudah ada doktor yang tetua.

Berapa gaji pertama yang Kamu dapat waktu itu?
Saya waktu itu Rp 35 juta sebulan. Di luar biaya handphone, transportasi, rumah. Di saat saya tengah bujang?, tahun 2002 akhir. Dulu makan saja sulit.

Bagaimana perasaannya durasi dapat pendapatan sebesar itu?
Banggalah ya, riang sudah bisa bantu orang lanjutusia, adik-adik saya madrasah. Saya dihargai oleh wanita era itu. Ada prasarana mobil, diberi rumah selaras perusahaan. Di situ saya menaksir betul pikiran cerdas itu mahal. Orang yang operasi keras, pantang berserah itu mahal, beserta wajib dinilai mahal.

Berapa lama kerja selaku profesional di perusahaan orang lain?
Hanya satu tahun, kesimpulannya saya mengundurkan diri dari perusahaan. Sedemikianitu konsep suah jalan, 1 tahun saya menghasilkan asian perusahaan Rp 13,7 miliar.

Dalam RUPS itu saya laporkan Rp 10 miliar lebih. Setelah itu mengembalikan diri dari perusahaan. Mereka tiada mau, aku sampaikan, bahwa aku mundur tak karena benci.

Saya hengkang sebagai bentuk ingin aku berkembang, saya mundur maskapai tetap aku jaga. Sebagai komitmen ini saya kerjakan bukan di aspek kerjaaan yang saya kerjakan. Bisa pesangon waktu itu Rp 750 juta. Pesangon aku. Pembagian dividen goodwill itu uang penambahan.

Apakah Anda langsung mendatangkan perusahaan sendiri?
Habis itu bikin perusahaan seorangdiri. Uang yang itu 7 bulan habis juga, sempat jatuh bangun, sempat naik ojek lagi lantaran fasilitas ditarik kan.

Industri pertama itu kontraktor. Usahadagang itu saya kerjakan di Papua, area operasi, melek infrastruktur. Hanya itu pintu masuk buat pengusaha wilayah untuk memperoleh modal.

Menurut saya juragan itu ada dua: satu by nasab (keturunan), dua by peruntungan. By nasab itu yaitu pengusaha yang meneruskan keluarganya. Itu sudah ter-settle berhenti. By nasib merupakan anak yang baru mulai keturunan pertama. Rata-rata pengusaha wilayah kalau mulai dari hampa itu dari kontraktor.

Bagian apa?
Bangun infrastruktur laluan, banyak kantor.

Apa langsung berhasil?
Waktu saya keluar perusahaan (pertama) itu 6 bulan belum terlihat omzet, dan hendak bayar gaji pegawai saja telah susah. Terdesak naik ojek lagi 2003-2004.

Naik ojek lagi. Saat itu orang bilang aku gila. Orangtua saya juga mengasihani kenapa saya keluar dari maskapai. Bagi orang lanjutusia saya, Rp 35 juta honor saya suah luar biasa sekali. Orang berumur saya nangis. Lagipula yang kau ingin cari kata mereka. Sudah ada pegangan hidup istilahnya.

Bagaimana bisa berdiri lagi?
Pengusaha yang berkuasa itu bukan juragan yang di atas ketika dia berhasil. Kalau azamat itu, jatuh bangun lalu bangkit. Itu baru bagus Saya harus bangun, bagaimana perlu tetap survive dengancaraapa harus operasi terus. ?

Aku berpegang lantas pada satu perintah agama, kalau Allah tidak akan mengubah sesuatu kaum, kalau kaum itu tiada mengubahnya sendiri. Sebab itu konsistensi, pikiran saya fokus, kerja lalu, siang malam.

Saya tidur jam 3 pagibuta. Menemani orang, dekati orang, dekati orang bisa dikatakan jadi budaknya. Dalam taraf jatuh itu, karena kamu punya hajat dengan orang.

Kita harus datangi Kepala Jabatan, kalau ingin cari proyek, pimpinan proyek, di gisik jalan, macam-macam. ?Yang utama bagaimana agar orang percaya pada saya, dan aku dapat tempat yang cukup. Harga diri saya saya taruh di bawah kolong meja. Apa pun saya lakukan.

Lamun jatuh perusahaan tidak tutup?
Tidak tutup, namun sempat dua bulan tenagakerja saya enggak mendapatkan honor. Karyawan saya loyal, lalu baru 10 orang. Mereka tahu betul. Manajemen saya transparan. Tidak pernah saya itu membawa uang perusahaan. Oleh karna itu anak-anak di kantor mencoba memiliki itu industri.

Perusahaannya masih terdapat?
Ada, serta itu sekarang jadi holding.

Bidangusaha Anda apa saja?
Sepertiitu dapat bekal saya diversifikasi, pertambangan, properti ladang sedikit-sedikit. Aku pakai aliran orang kampung. Kalau punya 10 telur. Aku nggak dapat taruh di satu garing. Kalau satu garing jatuh. Masih terdapat 4 keranjang yang lain. Jadi memang sederhana saja. Seluruh harus fokus, usahadagang itu fokus.

Berupa perusaahaan?
Alhamdulillah tampak, lebih dari 5, ada.

Titik balik kesuksesan yang amat diingat?
Kala saya jadi Ketua Lazim HIPMI Papua tahun 2007. ?Saya jujur kalau saya tidak ber-HIPMI, belum tentu hidup saya dalam negeri usaha tentu jadi seperti ini. HIPMI pernah memberikan saya banyak hal, dalam konteks pergaulan ekonomi. Dan sudah biasasaja saya mengabdikan diri.

Kapan itu?
Di tahun 2007 saya jadi Kepala BPD Papua sampai 2010 akhir. Mulai jadi pengusaha saya sudah jadi badan HIPMI di 2004-an. ?Waktu itu kalau ada kegiatan kita atur-atur tempatduduk, mengambil bagasi superior kalau di Jakarta tidak langsung jadi Ketum. Bawa tas kalau ada petandang dari Jakarta datang para senior yang mengurus bagasinya aku. Dimarahi-marahi lagi.

Dalam hidup dan keberhasilan siapa yang berjasa?
Banyak orang yang berjasa. Apabila boleh katakan aku bukan anak siapa-siapa, dan saya bukan siapa-siapa, saya begini karena meluap orang yang membantu aku. Dan tiap orang yang bantu saya saya anggap dia orang yang memiliki jasa besar. Tampak falsafah mengungkapkan, Jangan anda pernah ingat tentang apa yang pernah anta berikan. Tapi ingat apa yang orang lain berikan pada dirimu sekalipun itu kecil.

Berharga tak terdapat yang benar-benar berjasa?
Meluap orang dan tiap-tiap punya peran. ?Tapi apabila jujur bahwa yang menginspirasi saya untuk tetap beroperasi keras itu adalah ayah saya, abah saya enggak sekolah, dalam kondisi sakit pun beliau bekerja bakal menghidupi abdi.

Spirit itu yang tampak dalam benak saya. Jadi ada tiga kunci keberhasilan, pertama gagasan yang berpendidikan, jaringan yang baik. Serta harus operasi keras yang kuat. Berhubungan modal uang semua macam apabila punya bekal itu, keluar oleh sendirinya.

Punya kiat khusus, alias kebiasaan?
Terlihat. Saya senang spekulasi. Spekulasi saya amat tinggi dan saya suka mengambil tantangan besar. Gembira sesuatu yang menantang.

Apa ketetapan dalam hidup tantangan yang diambil?
Pemodalan pertambangan pernah gagal, tapi berakhir itu sukses. Bisnis itu jangan jadi produser kalau takut gagal. Tidakboleh untungnya saja kalian ingin, tapi gagalnya enggak.

Tak tampak orang hebat langsung jadi membuahkanhasil. Kalau ada orang yang merasa ngeri itu jangan, itu dinamikanya. Itu bukan sesuatu yang luar lumrah. Itu merupakan variabel dari usaha itu seorangdiri. Cerminan dari bumi usaha, dirinya tak bakal pernah mantap.

Pernah ditipu ataupun gagal yang paling diingat?
Membludak, tapi normal saja. Kalau pengusaha punya omzet di berdasarkan Rp 50 miliar itu pasti sempat ditipu orang.

Bagaimana ceritanya?
Tiada usahlah saya ceritakan. Cukup sakitnya itu di sini. Sejenisini ya, kita jangan mengambil hak orang dan membekuk orang, karena suatu saat anda diambil milik oleh orang itu sakit.

Tapi dalam gerak interaksi sosial itu kita tiada bisa khali. Maka apa yang harus dilakukan, adakan mental serta jeli dalam memilih dongan, membaca kawan.

Jika itu terjadi jangan dianggap kedukaan, Allah beri cobaan, ujian buat naik kelas alias zakat kita kurang. Sebab Allah tak hendak memberikan pukulan pada manusia melampaui kemampuan manusia itu. Nah, positioning kita itu di danau. Bisakah keluar dari fase itu, bijakkah anta menerima itu?

Berapa besaran telah ditipu?
Puluhan miliar. ?Tidak mesti dijelaskan, cukup fantastis lah bahasanya.

Anda ini termasuk pertama Kepala Umum (Ketum) HIPMI yang dari Indonesia Timur?
Pertama jika betul, belum tampak pengusaha Ketum HIPMI ini yang berlatar belakang serupa saya. Rata-rata anak komposit, pejabat. Aku meyakini akan sebuah cara.

Proses yang saya lakukan ini proses panjang, saya berjuang dari pangkat terendah, saya pernah jadi anggota di BPC (Tubuh Pengurus Agen), jadi wakil Kasir Umum di BPD (Tubuh Pengurus Teritori).

Saya sempat Ketum BPD HIPMI Papua, jadi pengurus biro, kompartemen, Betua Aspek. Setelah itu baru jadi Ketua Lumrah. Ibarat askar saya ini, tiada ujug-ujug langsung kolonel. Pangkatnya pun perjuangan. Harus dicatat saya adalah semata Ketua Lazim yang berproses dari bawah. Jadi saya terproses dari BPC.

Jadi di satu aspek. Aku bukan anak siapa-siapa. Dari kian Ketua Lumrah yang terproses dari bawah cuma aku. Dan oleh karena itu, ?salahnya di mana, saya benar-benarpercaya siapa yang menabur, siapa yang menuai, aku menabur 10 tahun lebih dan waktunya saya memanen. Tidak segmental, sungguh-sungguh.

Aku bukan anak siapa-siapa, sungguh faktanya begitu. Tapi aku tak dapat bohong, janganlah pernah membekuk diri sendiri. Aku bukan yang sempurna. Allah kasih jalan itu terhadap saya. Aku yakin banyak kader HIPMI yang lebih bagus daripada saya. ?

HIPMI ini lahir mengisi kebebasan. Mencetak angkatan muda, tapi satu lagi, HIPMI itu jadi alat perekat menurut keutuhan negara Indonesia. Itu cita-citanya memadatkan kemerdekaan.

Sebagai kebetulan, Ketum HIPMI dari Sumatera suah ada, Jawa suah ada, Kakak Haryadi Sukamdani, Abang Cicip, ada Kakak Agung Laksono, kemudian dari Sulawesi suah ada Ketum Erwin aksa. Kalimantan pernah ada Ketum Okto. Papua serupa Maluku belum. Jadi sudah betul HIPMI, Ketumnya dari Sabang sampai Merauke. Sebenarnya mendapatkan itu tiada gampang. Berdarah-darah.

Keterangan mau jadi Ketum HIPMI apakah karena bergengsi?
Bukan jabatannya, tak gengsi-gengsian. Saya dari mahasiswa pernah dipanggil Ketum kok. Sebab HIPMI itu begitu membludak memberikan pelajaran pada saya. Ibarat ibunda kandung yang melahirkan anaknya, beserta anaknya sudah dewasa serta dia suah merasa bisa mengabdikan dirinya pada ibunya, sehingga sudah sepatutnya lah. Saya bukan ingin dipandang anak yang tidak mengabdi.

Kedua adalah memberikan inspirasi. Lantaran tugas kepala itu ada tiga, pertama membuat inspirasi. Membikin gagasan besar serta mampu melindungi dan mengeksekusi ide tersebut.

Dalam konstelasi inspirasi, anda harus membuka keinsafan baru, jika Ketua Lumrah HIPMI itu tak boleh hanya dimiliki satu masyarakat eksklusif. Kader HIPMI bukan mengenal anak siapa lalu siapa.

Semua calon HIPMi punya kedaulatan dan domisili yang sama bakal dapat bilik pengabdiannya pada HIPMI, selama orang itu mengikuti proses dan didapati mumpuni buat memimpin.

Apa yang bakal dijalani saat mengemban kedudukan sebagai Kepala HIPMI?
Pertama, setiap bos dalam sebuah institut, dia tiada boleh membawa institut itu keluar dari perjuangannya. Kunci utama sebuah badan khususnya HIPMI ada pada dua hal, yang pertama ada pada introduksi HIPMI, yaitu cita-citanya buat menyejahterakan kaum agar lurus dan gani.

Tujuannya adalah, pasal 7 menciptakan generasi muda buat menjadi pemain usaha. Yang pada alhasil kemudian mampu menguasai ekonomi bangsanya individual.

Berikut HIPMI lahir menjadi organisasi pergelutan. Berjuang di saat itu melawan satu hegemoni kekuasaan ekonomi antara pribumi dan non pribumi. Riwayat ini tidak dapat kita lupakan. Selagi itu menjadi tujuan, apa yang patut dilakukan?

Pertama apabila ada kecemasan yang terjadi kuantitas pengusaha 1,2% dari 250 juta. Idealnya sedikitnya 2%. Di Singapura 7%, Malaysia 4,5%.

Oleh karena itu yang harus dilakukan dengancaraapa mengubah mindset arek, dari karyawan sebagai pengusaha. Dari penerima gaji selaku pemberi pendapatan. Pandangan aku, pemuda terdapat dua, yang berbasis kampus, serta yang tidak.

Jika kita mengikuti perkembangan kebijaksanaan Pak Jokowi pada penerimaan PNS itu akan dilakukan penangguhan. Maka bisa dipastikan, jika kalau bukan ada opsilain lain, kalau tiada segera dipindai mindset ini. Maka siap-siap perguruan tinggi di Indonesia hendak menciptakan pengangguran intelektual, akan menjadi kecelakaan besar bagi bangsa.

Objek Anda sesudah ini bagaimana?
Objek saya yaitu kami tentu masuk ke seluruh perguruan tinggi HIPMI PT (Perguruan Tinggi). Penjaga terdepan, merombak cara memandang agar bisa jadi pengusaha.

HIPMI itu terdapat di 439 BPC (Badan Perwakilan Agen) dari 554 kabupaten kota se-Indonesia. Artinya apa, infrastruktur HIPMI ini suah sangat sedia untuk digerakkan agar menjadi anggota dari proses pembangunan untuk menjadikan pengusaha.

Objek Anda untuk menambah besaran pengusaha di Indonesia?
Pada 10 tahun berlanjut, jumlah pengusaha Indonesia baru 0,5%. Saatini pertanyaan saya ialah organisasi apa selain HIPMi yang berperan aktif untuk mencetak calon pengusaha?

Aku punya optimisme atas bonus demografi buat 5 tahun ke depan, jumlah produser nasional akan memuncak sampai dengan 2%. Kedua, HIPMI akan berusaha semaksimal mungkin, bakal memberikan pikiran yang bermanfaat kepada penguasa agar pembagian ekonomi itu tak bisa satu wilayah. HIPMI bakal mendorong pemerintah buat pemerataan. Yang kelirunya kita kamu terlalu mengecap pengusaha itu tak berbasis kebajikan lokal.

Katakanlah kalau ada investasi di Kalimantan, partnernya tidakboleh lagi ambil dari Jakarta, dari Kalimantan dong. HIPMI akan mendorong itu, agar muncul agregat baru dari wilayah.

Apalagi jika kita amati konsumsi nasonal itu 65% terdapat di Jakarta, Jawa Barat, Banten. Ini cerminan ketimpangan ekonomi kita bersama wilayah lain. HIPMI pula bakal mengusahakan bunga kredit UMKM. Kamu tak miring pada UMKM, masa bunga kreditnya 20%. Sementara saat krisis ekonomi, UMKM itu sebagai pondasi, benteng. Sementara bunga cicilan umum 11%-12%, mengapa UMKM 20%. Sementara UMKM itu pengusaha pribumi.

Terobosan apa yang mau dilakukan?
Kamu harus piawai memainkan peran. Saya akan masuk ke eksekutif dan legislatif. Kedua, buat menciptakan kesempatan itu dua-duanya harus diinjak. ?Itu fungsi Ketua Biasa untuk lakukan lobi-lobi itu.

Submitted by:
Disclaimer: Pressbox disclaims any inaccuracies in the content contained in these releases. If you would like a release removed please send an email to remove@pressbox.co.uk together with the url of the release.